Keindahan Pantai Deking sambut peserta Sandeq Race 2018

Festival Sandeq Race 2018 memasuki etape Banua Sendana – Deking Malunda. Pada etape ini ada 17 kapal Sandeq yang berhasil mencapai finish. Juara 1 diraih “Mandala Bintang Timu” yang disponsori BKKBN Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Pada etape ini, kapal-kapal Sandeq beradu strategi untuk mencapai garis finish. Arah mata angin yang tidak menentu, membuat kapal terpaksa berputar-putar terlebih dahulu. Angin adalah satu-satunya pendorong kapal.

Sesampainya di pantai Deking Malunda, peserta langsung disambut berbagai atraksi yang disiapkan Kabupaten Majene. Di antaranya pementasan Tari Kipas, Sayang Sayang Puisi, dan Pakkacaping.

Pantai Deking 2018 Merdeka.com

“Kegiatan ini diharapkan dapat mencapai tiga tujuan utama, yaitu sebagai sarana promosi budaya bahari Mandar, pelestarian artefak bahari Mandar dan meningkatkan kunjungan wisatawan di Sulbar,” kata Kepala Dinas Pariwisata Sulbar, Farid Wajdi, Rabu (15/8).

Dia menjelaskan, Sandeq sebagai perahu tradisional Mandar, sudah menjadi ikon di Sulbar, dan telah diketahui dunia bahkan sudah tercatat di agenda nasional Kementerian Pariwisata.

“Ini dapat membantu promosi daerah kita. Untuk itu harus dilestarikan dengan mulai mendidik putra-putra Sulbar, agar tahu membuat perahu Sandeq tradisional. Ke depannya diharapkan para wisatawan lokal maupun internasional akan lebih tertarik berkunjung ke Sulbar,” ujarnya.

Farid mengaku, pihaknya akan terus mengembangkan festival Sandeq Race. Kegiatan ini akan dijadikan sebagai atraksi andalan yang diminati wisatawan nusantara dan mencanegara.

Pantai Deking 2018 Merdeka.com

Pantai Deking 2018 Merdeka.com

Bahkan, Sulbar siap membuat program pelestarian Kapal Sandeq dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada anak muda sebagai regenerasi.

“Kita akui saat ini tidak banyak yang bisa mengendarai Sandeq. Kita punya banyak Kapal Sandeq tapi kekurangan jokinya. Karena itu kita akan melatih anak-anak muda terkait Sandeq ini. Ke depannya, Kapal Sandeq akan kita tawarkan kepada wisatawan minat khusus,” jelas Farid.

Dia menambahkan, dengan adanya Festival Sandeq Race ini, perekonomian masyarakat yang menjadi rutenya lomba juga bisa bergerak. Penginapan terisi. Restoran dan rumah makan lebih laris dari biasanya.

“Tidak hanya hotel dan tempat makan saja yang menikmati, pedagang kaki lima ikut kecipratan rezeki. Sehingga, Festival Sandeq Race selalu menjadi ajang yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat,” pungkasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bahwa sport tourism bagitu efektif dalam mempromosikan pariwisata berbagai daerah di Indonesia.

“Sport tourism efektif karena nilai media value atau media branding-nya tinggi. Media value yang didapat minimal bisa dua kali lipat dari direct impact turis yang datang, karena dipromosikan oleh media nasional dan internasional sebelum, sesaat, dan sesudah acara,” terang Menpar Arief Yahya.

Menpar memberikan contoh, jika Moto GP kelak diadakan di Indonesia, maka potensi keuntungan minimumnya hingga Rp 2 triliun dengan modal Rp 130 miliar. Moto GP tersebut akan bisa mengundang 100.000 wisatawan, dan menghasilkan nilai ekonomi Rp 1 triliun. Sedangkan media value-nya minimal dapat Rp 2 triliun.

“Memang pemerintah daerah (Pemda) butuh modal besar di awal, akan berkorban dulu. Tapi memang seperti itu biasa. Uniknya sport tourism ini modalnya tidak hanya dari Pemda, akan banyak sektor yang terlibat,” jelas Menpar Arief Yahya. [hhw]